Jumat, 20 November 2015

Kisah KH. Ali Mustofa Ya'kub Ribuan Kali Cium Tangan Gus Dur

Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA berkata : "Bukan Cuma dua kali
kami mencium tangan Gus Dur, tetapi ribuan kali... Dan apapun yang
terjadi pada diri Gus Dur, baik beliau menjadi Presiden maupun rakyat
biasa, beliau adalah tetap guru kami dan kami adalah santri atau murid
beliau yang akan selalu menghormati beliau, meskipun kami tidak
selamanya sependapat dengan beliau."


Seorang Kawan bertanya kepada Kiai Ali Mustafa Yaqub :
"Pada waktu rombongan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghadap Presiden
Soeharto, Ustadz menganjurkan agar nanti waktu bersalaman dengan Pak
Harto, para ulama tidak membungkuk atau menundukkan kepala. Ternyata
ketika berjabat dengan Gus Dur, Ustadz bukan saja membungkuk, tetapi
justeru mencium tangan Gus Dur. Ini membuktikan bahwa Ustadz tidak
konsisten terhadap pendapat Ustadz. Bagaimana hal ini bisa terjadi?"
Kiai Ali Mustafa Ya'qub menjawab :
"Benar sekali yang anda sebutkan itu. Pada waktu MUI menghadap Pak
Harto, kami memang punya sikap seperti itu. Sikap itu kami ambil dari
keterangan Imam Nawawi dalam kitabnya, Al-Tibyan fi Adab Hamalah
al-Qur'an, dimana beliau menuturkan bahwa di antara adab para ulama
dan pengajar al-Qur'an itu adalah tidak boleh menghinakan diri dan
ilmunya.
Bagi kami, Presiden itu adalah simbol kepemimpinan dunia, sedangkan
ulama merupakan simbol kepemimpinan agama atau akhirat. Pimpinan agama
tidak boleh merendahkan dirinya di hadapan pimpinan dunia, karena hal
ini berarti merendahkan agama itu sendiri. Bahkan ada sebuah hadis
menuturkan (yang artinya) "Seburuk-buruk umatku adalah ulama yang
sering mendatangi penguasa" (HR. Ibn Majah).
Itulah pendapat kami tentang sikap yang harus dimiliki oleh ulama
terhadap para penguasa. Meskipun dengan catatan bahwa hal itu tidak
berarti meninggalkan sikap tawadhu. Ulama di hadapan penguasa tidak
boleh menghinakan dirinya, tetapi harus tetap tawadhu. Sementara
penguasa yang kami maksud itu bukanlah penguasa yang sekaligus ulama,
yang pada waktu itu adalah Presiden Soeharto.
Karenanya, khusus untuk Gus Dur, beliau itu adalah ulama sebelum
menjadi presiden. Apalagi khusus untuk kami, Gus Dur itu adalah guru
kami. Kami menjadi murid beliau sejak tahun 1971. Kami belajar Bahasa
Arab dan mengaji kitab Qatr al-Nada dari beliau."


Kawan : "Tetapi ustadz mencium tangan Gus Dur sampai dua kali. Begitu
kami melihat di layar televisi. Apakah ini tidak berlebihan?"
Kiai Ali Mustafa Yaqub:
"Bukan Cuma dua kali kami mencium tangan Gus Dur, tetapi ribuan kali.
Setiap kami bertemu beliau, sejak pertama kali kami bertemu beliau di
Tebuireng tahun 1971, kami selalu mencium tangan beliau.
Tentang mencium tangan dua kali dalam acara malam itu, baiklah kami
jelaskan, bahwa mencium tangan yang pertama itu atas inisiatif kami
sendiri. Rasanya tidak etis, beliau itu guru kami, kami duduk dalam
satu majelis dengan beliau, kemudian kami tidak menyalami beliau.
Sementara beliau tahu bahwa kami ada di majelis itu. Sedangkan untuk
mencium tangan yang kedua, karena kami dipanggil oleh beliau, beliau
mau menanyakan sebuah istilah yang kami sebutkan dalam ceramah tadi.
Dan apapun yang terjadi pada diri Gus Dur, baik beliau menjadi
Presiden maupun rakyat biasa, beliau adalah tetap guru kami dan kami
adalah santri atau murid beliau yang akan selalu menghormati beliau,
meskipun kami tidak selamanya sependapat dengan beliau. Dan bagi kami,
hal ini tidak menjadi masalah karena para ulama dulu tidak selamnya
sependapat dengan gurunya. Sebut saja misalnya, Imam Ahmad bin Hanbal,
beliau adalah murid Imam Syafi'i. Namun dalam berijtihad, Imam Ahmad
bin Hanbal tidak selamanya sama dengan Imam Syafi'i. Bahkan kemudian
Imam Ahmad bin Hanbal memiliki madzhab sendiri dalam bidang fiqh."

Kawan : "Dalam amanatnya, Gus Dur menyebut-nyebut Ustadz sebagai adik
dalam pemikiran. Apa maksud beliau, karena ada yang menuduh selama ini
beliau berpikiran sekuler. Apakah Ustadz juga adik dalam pemikiran
sekuler?"
Kiai Ali Mustafa Yaqub:
"Sebenarnya beliau telah menjelaskan sendiri apa yang beliau maksud
dengan adik dalam pemikiran itu. Beliau itu adalah murid dari Pro. Dr.
Muhammad Musthafa Azami, seorang pakar Ilmu Hadis masa kini, kelahiran
India. Beliau tampaknya juga mengagumi Azami. Beliaulah orang yang
pertama kali memperkenalkan nama Azami di Indonesia, yaitu dalam acara
Dies Natalis Universitas Hasyim Asy'ari di Tebuireng Jombang, pada
tahun 1972.
Beliau menyampaikan ceramah Dies Natalis dengan judul Sumbangan MM
Azami dalam Penyelidikan Hadis. Acara Dies Natalis itu dihadiri oleh
para pakar, para ulama, dan dua orang menteri waktu itu, yaitu Menteri
Agama H. A. Mukti Ali dan Menteri Penerangan H. Budiarjo".
(muslimedianews.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini