Jumat, 23 Oktober 2015

Sunni dan Syiah Punya Kedekatan Historis dan Kultural



Konflik antara Sunni dan Syiah seolah terus berkepanjangan, padahal
secara historis dan kultural keduanya mempunyai kedekatan.
Munculnya konflik antara dua aliran ini dimulai dari jalur politik.
Demikian disampaikan sejarawan Islam Nusantara, Agus Sunyoto, ketika
menyampaikan tentang pengaruh Syiah Zaidiyah dalam proses Islamisasi
Nusantara di hadapan mahasiswa Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam
Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta Kelas Ciganjur.


"Sunni dengan Syiah tidak praktis hitam putih begitu itu. Sekarang aja
ketika muncul Syiah politik macam-macam itu kan, sekarang baru terjadi
(gesekan), dulu tidak begitu," tegas Dosen Arkeologi STAINU Jakarta
ini.


Lanjut Agus, orang-orang yang anti Syiah juga berlebihan karena mereka
mengatakan, "Awas hati-hati paham Ja`fari sudah berkembang di
Indonesia, itu paham Syiah, paham sesat." Statemen ini, menurutnya,
cukup ironis karena Imam Ja`far Shadiq adalah guru dari imam mazhab
fiqh, yakni Imam Maliki dan Imam Abu Hanifah.


"Kalau kamu meyakini bahwa paham yang dibangun oleh Imam Ja`far Shadiq
itu sesat, ya kamu harus memberikan kesimpulan juga berarti kalau
Ja`far Shadiq sesat, mazhab Ja`fari sesat, murid-muridnya pasti sesat
juga. Imam Ja`far itu punya murid Imam Malik dan Imam Abu Hanifah, itu
berarti dua orang itu sesat juga, berani nggak kamu mengatakan Imam
Malik dan Imam Abu Hanifah sesat, nah Imam Maliki itu punya murid,
Imam Syafi`i, apa sesat juga?" ujarnya.


Untuk itu, Agus mengimbau, dalam meneliti sejarah hendaknya melepaskan
aspek-aspek emosional seperti kebencian atau kecintaan, karena jika
salah satu dari dua aspek ini hadir dalam diri seorang peneliti maka
hasilnya tidak akan objektif. (nu.or.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini