Senin, 26 Oktober 2015

Etika Di Dalam Masjid Bagi Perempuan




Tidak terlarang bagi seorang wanita untuk pergi ke masjid. Namun
rumah-rumah mereka lebih baik jika mereka hendak melakukan sholat.

Jika seorang wanita hendak pergi ke masjid, ada beberapa adab khusus
yang perlu diperhatikan:


1.Meminta izin kepada suami atau mahramnya

2.Tidak menimbulkan fitnah

3.Menutup aurat secara lengkap

4.Tidak berhias dan memakai parfum

Perbuatan kaum wanita yang memakai parfum hingga tercium baunya dapat
menimbulkan fitnah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu'alaihi
Wasallam, "Siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian
keluar menuju masjid, maka tidak akan diterima shalatnya sehingga ia
mandi"
Abu Musa radhiallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda,

كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ‏‎
‎بِالْمَجْلِسِ فَهِىَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِى زَانِيَةُ‎

"Setiap mata berzina dan seorang wanita jika memakai minyak wangi lalu
lewat di sebuah majelis (perkumpulan), maka dia adalah wanita yang
begini, begini, yaitu seorang wanita pezina".



5. Ketika Memasuki Masjid Hendaklah Berdoa dan Mendahulukan Kaki Kanan 

Hendaklah orang yang keluar dari rumahnya membaca doa, 

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَإِلاَّ بِاللَّهِ 

"Dengan menyebut nama Allah aku bertawakal kepada-Nya, tidak ada daya 
dan upaya selain dari Allah semata". 
Kemudian ketika berjalan menuju masjid hendaklah berdoa, 

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي‎ 
‎سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا 
وَفَوْقِي‎ ‎نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا‎ ‎وَخَلْفِي 
نُورًا وَاجْعَلْ‏‎ ‎لِي نُورًا 

"Yaa Allah, berilah cahaya di hatiku, di penglihatanku dan di 
pendengaranku, berilah cahaya di sisi kananku dan di sisi kiriku, 
berilah cahaya di atasku, di bawahku, di depanku dan di belakangku, 
Yaa Allah berilah aku cahaya". 


6. Shalat Tahiyatul Masjid 

Di antara adab ketika memasuki masjid adalah melaksanakan shalat dua 
rakaat sebelum duduk. Shalat ini diistilahkan para ulama dengan shalat 
tahiyatul masjid. Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda, 

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ‏‎ ‎فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ 
قَبْلَ أَنْ يَجْلِ 

"Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia 
shalat dua rakaat sebelum dia duduk". 

Yang dimaksud dengan tahiyatul masjid adalah shalat dua rakaat sebelum 
duduk di dalam masjid. Tujuan ini sudah tercapai dengan shalat apa 
saja yang dikerjakan sebelum duduk. Oleh karena itu, shalat sunnah 
wudhu, shalat sunnah rawatib, bahkan shalat wajib, semuanya merupakan 
tahiyatul masjid jika dikerjakan sebelum duduk. Merupakan suatu hal 
yang keliru jika tahiyatul masjid diniatkan tersendiri, karena pada 
hakikatnya tidak ada dalam hadis ada shalat yang namanya 'tahiyatul
masjid'. Akan tetapi ini hanyalah penamaan ulama untuk shalat dua 
rakaat sebelum duduk. Karenanya jika seorang masuk masjid setelah 
adzan lalu shalat qabliah atau sunah wudhu, maka itulah tahiyatul 
masjid baginya. Syariat ini berlaku untuk laki-laki maupun wanita. 
Hanya saja para ulama mengecualikan darinya khatib jumat, di mana 
tidak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu 
'alaihi Wasallam shalat tahiyatul masjid sebelum khutbah. Akan tetapi 
beliau datang dan langsung naik ke mimbar. Syariat ini juga berlaku 
untuk semua masjid, termasuk masjidil haram. 
Tahiyatul masjid disyariatkan pada setiap waktu seseorang itu masuk 
masjid dan ingin duduk di dalamnya. Termasuk di dalamnya waktu-waktu 
yang terlarang untuk shalat, menurut sebagian pendapat kalangan ulama. 


8. Mengagungkan Masjid 

Bentuk pengagungan terhadap masjid berupa hendaknya seseorang tidak 
bersuara dengan suara yang tinggi, bermain-main, duduk dengan tidak 
sopan, atau meremehkan masjid. Hendaknya juga ia tidak duduk kecuali 
sudah dalam keadaan berwudhu untuk mengagungkan rumah AllahTa'ala dan 
syariat-syariat-Nya. AllahTa'ala berfirman, 
"Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan 
syiar-syiar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati". 


9. Menuggu Ditegakkannya Shalat Dengan Berdoa Dan Berdzikir. 

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, "Setelah shalat dua rakaat 
hendaknya orang yang shalat untuk duduk menghadap kiblat dengan 
menyibukkan diri berdzikir kepada Allah, berdoa, membaca Alquran, atau 
diam dan janganlah ia membicarakan masalah duniawi belaka". 
Terdapat keutamaan yang besar bagi seorang yang duduk di masjid untuk 
menunggu shalat, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
Wasallam, 

فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فيِ الصَّلاَةِ مَاكَانَتِ 
الصَّلاَةُ‏‎ ‎تَحْبِسُهُ واْلمَلاَئِكَةُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ أَحَدِكُمْ 
مَادَامَ فِي‎ ‎مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلىَّ فِيْهِ يَقُوْلُوْنَ: 
اَللّهُمَّ ارْحَمْهُ‏‎ ‎الّلهُمَّ اغْفِرْ لَهُ مَا لَمْ يُؤْذِ فِيْهِ 
مَا لَمْ‏‎ ‎يُحْدِثْ 

"Apabila seseorang memasuki masjid, maka dia dihitung berada dalam 
shalat selama shalat tersebut yang menahannya (di dalam masjid), dan 
para malaikat berdoa kepada salah seorang di antara kalian selama dia
berada pada tempat shalatnya, Mereka mengatakan, "Ya Allah, 
curahkanlah rahmat kepadanya, ya Allah ampunilah dirinya selama dia 
tidak menyakiti orang lain dan tidak berhadats". 


10. Mengaitkan Hati Dengan Masjid 

Berusaha untuk selalu mengaitkan hati dengan masjid dengan berusaha 
mendatangi ke masjid sebelum shalat, menunggu shalat dengan berdzikir 
dan beribadah, dan tidak buru-buru beranjak. Dan keutamaan inilah yang 
akan dinaungi oleh AllahTa'ala ketika nanti tiada naungan 
selainnaungan-Nya. Sebagaimana dalam hadis, "Tujuh jenis orang yang 
Allah Ta'ala akan menaungi mereka pada hari tiada naungan kecuali 
naungan-Nya, dan laki-laki yang hatinya selalu terkait dengan masjid)" 
muslim.or.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini