Rabu, 14 Oktober 2015

Catatan Kecil Sang Narapidana : Dari Bilik Kalbu

Jakarta

di penghujung malammu

kau merengkuhiku dalam dinginmu,

sepanjang hari hujan gerimis,

sepanjang hari tubuh menggigil,

sepanjang hari merenungi,

telah benarkah langkah kaki ini,

berjalan tertatih-tatih

menapaki ukiran nasib yang mungkin menjadi sejarah,

menjadi kenangan.





Hidup,

gelora ini tak pernah lapuk

hanya lelah sedikit

menghela nafas lirih

menghayati dan menikmati apapun kejadian hari ini

untuk kemudian berjalan kembali.







Melati,

mekarlah bunga sekuntum,

kelak harummu ku cium,

sebagai hiasan indah di malam pengantin,

dari perjalanan sejarah yang tak pernah kumiliki.





Mahligai cinta,

bukankah telah sempurna kasih sayang ini ?

Bukankah tak pernah lelah perjuangan ini ?

Bukankah tak pernah bersuara keresahan ini ?

Bahkan tak pernah menitik air mata ini ?

Bukankah ini cinta sejati?

sehidup semati?

seia sekata

seiring seperjalanan

suka duka

bersama?





Cinta,

kefakiran

biarlah itu cerita,

Jakarta

dingin ini aku menghayatinya

akan berguguran kelopak bunga flamboyan

akan mengering ranting-ranting di dahan

akan berhembus angin perlahan,

menyempurnakan biruku

membuka suara kalbuku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini