Jumat, 11 September 2015

Mengenal Tokoh Munafik, Abdullah bin Ubay bin Salul

Siapa Abdullah bin Ubay bin Salul ? Sehingga saat kematiannya, Allah
melarang Rasulullah untuk menshalatinya.
Betapa Allah begitu rinci memerintahkan umat Islam melalui Rasulullah
dalam hal ini. Sehingga dapat diambil kesimpulan bagaimana Islam
memandang posisi golongan munafiq ini.


Orang-orang yang zahirnya bersyahadat, orang-orang yang mengaku
beragama Islam tapi tindakannya justru mau menghancurkan Islam,
Orang-orang yang mengaku Islam tapi justru hangat dan bersahabat
dengan kaum kufar, orang-orang yang mengaku Islam tapi memusuhi
syariat-syariatAllah.


Berkali-kali Al Qur'an menunjuk orang ini sebagai sosok kontroversi
dalam tutur kata dan perbuatannya yang merugikan Islam dan kaum
Muslimin. Hampir setiap ada fitnah yang menimpa kaum Muslimin di
Madinah selalu ada peran Abdullah bin Ubay sebagai provokatornya,
bahkan peristiwa haditsul ifki (berita palsu) yang menimpa Ummul
Mukminin "Aisyah" ra Al Qur'an mengisyaratkan Abdullah bin Ubay
sebagai pembesar yang mengendalikannya.


Al Kisah, Hingga tahun ke sembilan Hijriyah, sepulang Rasulullah saw
dari perang Tabuk, di akhir bulan Syawwal Abdullah bin Ubay menderita
sakit. Mendengar Abdullah bin Ubay sakit, Rasulullah saw menyempatkan
diri untuk membesuknya. Usamah bin Zaid bercerita: "Saya bersama
Rasulullah saw mengunjungi Abdullah bin Ubay yang sedang sakit untuk
membesuknya.
Rasulullah saw mengingatkan Abdullah bin Ubay "Bukankah saya sudah
melarang kamu dari dahulu agar tidak mencintai orang-orang Yahudi?"
Abdullah bin Ubay menjawab sekenanya, "Dulu Sa'd bin Zurarah membenci
orang-orang Yahudi, kemudian Sa'd bin Zurarah mati."


Rasulullah saw tidak kehilangan sisi kemanusiaan yang bermartabat
meskipun kepada orang yang sering Rasulullah ketahui dari Allah SWT
sebagai pembuat masalah dan fitnah di dalam barisan kaum Muslimin.


Secara zahir Abdullah bin Ubay menunjukkan dirinya sebagai seorang
Muslim, maka ia berhak mendapatkan hak keIslaman itu dengan dibesuk
ketika sakit.


Pada bulan kerikutnya, bulan Dzulqa'dah Abdullah bin Ubay wafat. Anak
lelaki Abdullah bi Ubay, yang bernama Abdullah bin Abdullah bin Ubay
datang menemui Rasulullah saw, meminta salah satu kain Rasulullah saw
untuk dijadikan sebagai kafan bagi Abdullah bin Ubay, ayahnya. Dan
Rasulullah saw mengabulkan permintaan itu dan memberikan kainnya
kepada Abdullah bin Abdullah bin Ubay untuk menjadi kafan bagi jenazah
ayahnya.


Kemudian Abdullah bin Abdullah juga meminta agar Rasulullah saw
berkenan datang menshalatkannya. Maka Rasulullah saw datang untuk
menshalatkan jenazah itu. Ketika Rasulullah saw berdiri hendak
menshalatkannya, Umar bin Khaththab menarik baju Rasulullah saw dari
belakang dan berkata: "Wahai Rasulullah, Engkau akan menshalatkannya?
Bukankah Allah melarangmu untuk menshalatkannya?

Rasulullah saw menjawab: "Sesungguhnya Allah SWT memberikan kepadaku
dua pilihan kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan
ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun
bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan
memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka
kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada kaum yang fasik. (QS at-Taubah:80)
Dan saya akan menambahnya lebih dari tujuh puluh kali.
Umar berkata: "Sesungguhnya dia itu orang munafiq". Setelah Rasulullah
saw menshalatkannya, barulah turun ayat: "Dan janganlah kamu
sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara
mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya.
Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka
mati dalam Keadaan fasik. (QS. At-Taubah:84)


Rasulullah saw menshalatkannya ketika itu karena memperlakukannya
secara zahir, yaitu pengakuan Abdullah bin Ubay bahwa ia seorang
Muslim. Dan Islam mengajarkan ummatnya untuk memperlakukan manusia
sesuai dengan kondisi zahirnya, urusan hati dan batinnya adalah
kewenangan Allah SWT.


Bisa juga dimaknai bahwa Rasulullah saw menshalatkan Abdullah bin Ubay
tokoh munafiq itu untuk menghormati anaknya Abdullah bin Abdullah bin
Ubay yang merupakan salah satu sahabat mulia. Sedangkan pemberian
kain Rasulullah saw sebagai kain kafan Abdullah bin Ubay bisa difahami
sebagai pembuktian karakter Rasulullah saw yang tidak pernah menolak
permintaan siapapun selama Rasulullah saw memilikinya. Bisa juga
difahami bahwa Rasulullah saw tidak pernah melupakan kebaikan Abdullah
bin Ubay, tokoh munafiq itu- di samping keburukannya yang tidak
terhitung.


Bagi Abdullah bin Abdullah bin Ubay kematian ayahnya itu menjadi salah
satu bukti bahwa berbakti kepada orang tua tetap dilakukan oleh
seorang anak, meskipun ia tahu bahwa ayahnya bergelimang dosa dan
berlumur maksiat. Selama orang tua itu tidak menyuruhnya berbuat
maksiat atau melarangnya beramal shalih.

Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini