Kamis, 03 September 2015

Kholifah Abu Bakar R.A

Hari Senin, ketika itu, dunia berguncang dahsyat. Seorang kekasih,

seorang Nabi dan seorang Rasul terakhir, kembali kepada PenciptaNya.

Sayyidina Muhammad Saw. wafat, setelah beberpa hari beliau sakit.

Seperti kelengangan yang mencekam, sekaligus bayang-bayang

keruntuhan, tetapi juga sebuah tonggak yang hendak ditegakkan. Tonggak

besar sepeninggal beliau. Duka dan harapan bercampur baur. Sebuah

sudut sejarah paling tajam, dalam sirkuit perjalanan perjuangan

membela agama Allah Swt dan RasulNya Sallallahu 'alaihi wasallam.

Saat itulah ummat Islam harus keluar dari kemelut yang begitu besar.

Sekaligus harus memenangkan perjuangan melawan diri sendiri, juga

memenangkan perjuangan melawan musuh-musuh Islam dari luar yang hendak

merampas kekuatan Islam.





Tampillah manusia besar, pahlawan yang tiada tara, mengurai benang

kusut dan membebaskan kemelut yang luar biasa. Abu Bakar ash-Shiddiq

ra, kekasih Rasulullah Saw., pembela dan pendamping selama hidupnya,

yang menenangkan gelombang dahsyat kala itu, hampir-hampir darah

bertumpah, dan api fitnah membubung ke angkasa.





Ia hadir antara duka nestapa dan harapan besar terhadap Rahmat Allah

Swt di masa depan. Ia tampil dengan fitrah dan cahaya. Ia muncul

membentengi bangunan kokoh yang hampir diruntuhkan oleh kekafiran,

kemurtadan dan kemunafikan. Keperkasaan kharisma yag melampaui

kegagahan para panglima perang, tetapi juga kelembutan, cinta dan

kasih saying yang mengungguli jiwa-jiwa kasih yang membumbung ke

angkasa.





Itulah Abu Bakar ash-Shiddiq yang tak pernah membuat kering para

penulis sejarah menggoreskan tinta emasnya. Begitu dekatnya, jiwa,

qalbunya, dan hartanya untuk Allah Swt dan RasulNya, di saat yang sama

begitu kuat dan besarnya tanggung jawab atas keselamatan ummat

sepeninggal Sang Nabi dan Sang Rasul Sallallahu 'alaihi wasallam dunia

akhiratnya, sampai selamat di hadapanNya kelak.





Ketegasan yang teguh dalam membela Sang Rasul Saw. yang tak

terbayangkan dengan kesalehan seorang Sufi yang terus mengalirkan

sungai-sungai air mata yang membelah celah-celah pipinya, membasahi

janggutya, dengan rintihan-rintihan kefanaan, munajat cinta, dan rasa

rindu yang dahsyat kepada Sang Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam. yang

telah mendahuluinya.





Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu'anhu, teladan yang tak pernah sunyi

dalam ruang kosong sejarah. Seorang panutan dalam religiusitas yang

menjulang ke langit, seorang yang terbuka (inklusif) dan sangat

demokratis, melebihi para raja dan penguasa dunia kala itu. Tokoh yang

sangat menghargai kearifan lokal, dengan pencahayaan Islam yang dalam.

Negarawan yang gagah nan saleh, tampil sebagai bapak pelindung ummat,

tak kenal kompromi bila harus menghadapi mereka yang hendak merobohkan

pilar-pilar agama yang dibangun oleh Sang Nabi Sallallahu 'alaihi

wasallam.





Namun ia merasakan kesunyian yang dahsyat ketika malam menyelimuti

kegelapan tiba, rindunya bergelora dalam lembah Cinta kepada Tuhan

RasulNya. Dialah Khalifatullah yang sesungguhnya, walau ia dengan

kerendahan hati dan rasa hina dinanya dihadapan Allah Swt, hanya

menyebut dirinya sebagai Khalifah Rasul.





Maka, tak mengherankan jika namanya selalu disebut dalam milyaran

bibir yang bergetar setelah nama Sang Nabi Saw. Semetara milyaran

jantung ummat berdetak, menggetarkan ArasyNya, ketika Hadharat

Al-Fatihah diucapkan setelah Sang Nabi Sallallahu 'alaihi wasallam.

Berkah-berkah cahaya melimpah, hingga menyirnakan luka-luka sejarah di

masa lampau. Era yang paling sulit dilaluinya, seperti meniti jembatan

Shirathal Mustaqim, ketika di bawahnya berkobar api neraka dunia.

"Jalan Lurus" menuju Allah bersama ummat ketika itu.





Dipanggil Abu Bakar ash-Shiddiq ra, dialah Abdullah bin Abi Quhafah,

Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'b bin Taym bin Murrah bin Ka'b Lu'ay

bin Ghalib al-Qurasy at-Taymi. Nasabnya bertemu dengan Nabi Saw. pada

Murrah bin Ka'b. Bertemu nasabnya dengan Nabi Sallallahu 'alaihi

wasallam pada kakeknya Murrah bin Ka'ab bin Luai.





Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri Nabi Muhammad Saw. Nama yang

sebenarnya adalah Abdul Ka'bah (artinya 'hamba Ka'bah'), yang kemudian

diubah oleh Muhammad Saw. menjadi Abdullah (artinya 'hamba Allah').

Muhammad Saw. memberinya gelar Ash-Shiddiq (artinya 'yang berkata

benar') setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi'raj yang

diceritakan oleh Muhammad Saw. kepada para pengikutnya, sehingga ia

lebih dikenal dengan nama "Abu Bakar ash-Shiddiq".





Abu Bakar ash-Shiddiq, lahir: 572 - wafat: 23 Agustus 634/21 Jumadil

Akhir 13 H. Lelaki pertama yang beriman kepada Allah dan Rasulullah

Saw. Setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, Abu Bakar menjadi khalifah

Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini