Rabu, 02 September 2015

Ajaran Wihdatul Adyan Bertentangan Dengan Al Qur'an

Saya menemukan artikel
tentang Wihdatul Adyan
(Kesatuan Agama) di situs
Islam Liberal
(www.islamlib.com). Di
situ dinyatakan bahwa
semua agama itu satu
atau sama benarnya,
dengan alasan,
sesungguhnya Tuhan yang
kita puja itu satu adanya.
Alasan itu meski benar,
tapi salah kesimpulannya.
Benar Tuhan itu satu.
Dalam Al Qur'an, surat Al
Ikhlas ayat 1 juga
dinyatakan: "Qul
huwallahu
ahad" (Katakanlah Allah
itu satu). Yang jadi
masalah adalah, masing-
masing agama itu
menyembah Tuhan yang
berbeda.
Islam menyembah satu
Tuhan semata, yaitu Allah.
Dalam surat Al Ikhlas
ditegaskan:
"Katakanlah: Allah (Tuhan)
itu esa
Allah tempat bergantung
Tidak beranak dan
diperanakkan
Dan tak satupun yang
setara dengannya" [Al
Ikhlas 1-4]
Adakah agama lain hanya
menyembah Allah sebagai
satu-satunya Tuhan atau
justru mereka
menyembah Tuhan yang
lain (misalnya matahari
atau manusia) atau
bahkan menyembah lebih
dari satu Tuhan?
Ada agama yang
menyembah Matahari
sebagai Tuhan, ada juga
yang menyembah tiga
oknum Tuhan
sebagaimana Agama
Kristen yang menyembah
Tuhan Bapa, Tuhan Anak
(Yesus), dan Roh Kudus.
Adakah agama-agama ini
sama dengan agama
Islam? Adakah Tuhan yang
mereka sembah sama
dengan Tuhan yang
disembah oleh ummat
Islam? Beda bukan? Itulah
kekeliruan kelompok
Islam Liberal yang
berusaha
mempropagandakan
paham "Wihdatul Adyan"
di situs mereka.
Kelompok Islam Liberal
berusaha
mempropagandakan
bahwa semua agama itu
sama dan benar, termasuk
ajaran Kristen, padahal
Allah sendiri dalam Al
Qur'an menegur
perbuatan Ahli Kitab/
Kristen yang memper-
Tuhankan Yesus sebagai
hal yang melampaui
batas. Adakah kelompok
Islam Liberal ingin
menandingi Allah?
"Wahai Ahli Kitab,
janganlah kamu
melampaui batas dalam
agamamu, dan janganlah
kamu mengatakan
terhadap Allah kecuali
yang benar.
Sesungguhnya Al Masih,
`Isa putera Maryam itu,
adalah utusan Allah dan
(yang diciptakan dengan)
kalimat-Nya yang
disampaikan-Nya kepada
Maryam, dan (dengan
tiupan) roh dari-Nya. Maka
berimanlah kamu kepada
Allah dan rasul-rasul-Nya
dan janganlah kamu
mengatakan: "(Tuhan itu)
tiga", berhentilah (dari
ucapan itu). (Itu) lebih baik
bagimu. Sesungguhnya
Allah Tuhan Yang Maha
Esa, Maha Suci Allah dari
mempunyai anak, segala
yang di langit dan di bumi
adalah kepunyaan-Nya.
Cukuplah Allah sebagai
Pemelihara." [An
Nisaa':171]
Allah menyatakan bahwa
orang-orang yang tidak
mau beriman kepada
ajaran Nabi Muhammad /
Islam sebagai kafir dan
akan dimasukkan ke
neraka:
"Orang-orang kafir yakni
ahli kitab dan orang-orang
musyrik (mengatakan
bahwa mereka) tidak akan
meninggalkan (agamanya)
sebelum datang kepada
mereka bukti yang nyata,
(yaitu) seorang Rasul dari
Allah (Muhammad) yang
membacakan lembaran-
lembaran yang disucikan
(Al Qur'an), di dalamnya
terdapat (isi) kitab-kitab
yang lurus.
Dan tidaklah berpecah
belah orang-orang yang
didatangkan Al Kitab
(kepada mereka)
melainkan sesudah datang
kepada mereka bukti yang
nyata.
Padahal mereka tidak
disuruh kecuali supaya
menyembah Allah dengan
memurnikan keta`atan
kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama
dengan lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat
dan menunaikan zakat;
dan yang demikian itulah
agama yang lurus.
Sesungguhnya orang-
orang kafir yakni ahli Kitab
dan orang-orang musyrik
(akan masuk) ke neraka
Jahannam; mereka kekal
di dalamnya. Mereka itu
adalah seburuk-buruk
makhluk.
Sesungguhnya orang-
orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh
mereka itu adalah sebaik-
baik makhluk.
Balasan mereka di sisi
Tuhan mereka ialah surga
`Adn yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai;
mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Allah
ridha terhadap mereka
dan merekapun ridha
kepadaNya. Yang
demikian itu adalah
(balasan) bagi orang yang
takut kepada
Tuhannya." [Al Bayyinah
1-8]
Ummat Islam memang
harus toleran dalam
masalah agama. Kita tidak
boleh memaksa orang lain
untuk beragama Islam.
Kewajiban kita hanya
berdakwah (menyeru) dan
menyampaikan informasi
kepada Non Muslim
bagaimana ajaran Islam
sebenarnya.
"Tidak ada paksaan untuk
(memasuki) agama
(Islam); sesungguhnya
telah jelas jalan yang
benar daripada jalan yang
sesat. Karena itu
barangsiapa yang ingkar
kepada Thaghut dan
beriman kepada Allah,
maka sesungguhnya ia
telah berpegang kepada
buhul tali yang amat kuat
yang tidak akan putus.
Dan Allah Maha
Mendengar lagi Maha
Mengetahui." [Al
Baqarah:256]
Tapi mengenai masalah
aqidah, hal itu tidak bisa
dicampur-adukkan. Tidak
bisa demi alasan toleransi,
akhirnya kita
menganggap semua
agama itu sama atau satu,
dan akhirnya ikut-ikutan
menyembah Tuhan Bapa,
Tuhan Anak, Roh Kudus,
dan lain-lain.
Na'udzubillah min dzalik!
Dalam surat Al Kaafiruun
ditegaskan:
"Katakanlah: "Hai orang-
orang yang kafir, aku tidak
akan menyembah apa
yang kamu sembah.
Dan kamu bukan
penyembah Tuhan yang
aku sembah.
Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa
yang kamu sembah.
Dan kamu tidak pernah
(pula) menjadi
penyembah Tuhan yang
aku sembah.
Untukmulah agamamu,
dan untukkulah,
agamaku". [Al Kaafiruun
1-6]
Ayat Al Qur'an di atas jujur
menyatakan. Ummat
Islam tidak akan
menyembah apa yang
mereka sembah. Ummat
Islam tidak akan
menyembah Tuhan Bapa,
Tuhan Anak, Roh Kudus,
dan lain-lain. Begitu pula
dengan orang-orang Kafir.
Mereka bebas menyembah
Tuhan mereka. Untuk
mereka agama mereka,
dan untuk kita agama kita.
Sederhana bukan?


sumber : media-islam.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini