Senin, 24 Agustus 2015

Fadhilah Memberi Minum Anjing Yang Kehausan

Rasulullah Shallahu 'alaihi wasallam pernah bercerita tentang
pertemuan seorang laki-laki dengan seekor anjing dalam sebuah tempat
tak jauh dari sumur. Kisah perjumpaan itu dimulai ketika tenggorokan
lelaki tersebut betul-betul telah kering. Lelaki ini terus melangkah
meski dahaga menyiksanya sepanjang perjalanan, hingga ia menemukan
sebuah sumur, lalu terjun dan meminum air di dalamnya. Air yang
mengaliri kerongkongnya cukup untuk menyembuhkan rasa haus itu.
Lidahnya kembali basah, tenaganya sedikit bertambah.


Saat keluar dari lubang laki-laki ini terperanjat. Di hadapan matanya
sedang berdiri seekor anjing dengan raut muka yang memelas. Napasnya
kempas-kempis. Lidahnya menjulur-julur. "Anjing ini pasti mengalami
dahaga sangat seperti yang telah aku derita," kata si lelaki.
Laki-laki tersebut seperti menyadari bahwa meski haus, anjing sekarat
itu tak mungkin turun ke dalam sumur karena tindakan ini bisa malah
mencelakakanya. Seketika ia terjun kembali ke dalam sumur. Sepatunya
ia penuhi dengan air, dan naik lagi dengan beban dan tingkat kesulitan
yang bertambah. Si lelaki bahagia bisa berbagi air dengan anjing.


Apa yang selanjutnya terjadi pada lelaki itu?
Rasulullah SAW berkata, "Allah berterima kasih kepadanya, mengampuni
dosa-dosanya, lantas memasukkannya ke surga."


Para sahabat bertanya, "Wahai, Rasulullah! Apakah dalam diri
binatang-binatang terkandung pahala-pahala kita?"
"Dalam setiap kesulitan mencari air terkandung pahala," sahut Nabi.


Kisah di atas mengingatkan kita pada keharusan bersifat welas asih
kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Tapi, bukankah anjing adalah
binatang haram? Bukankah keringat dan air liurnya termasuk najis
tingkat tinggi dan karenanya harus dijauhi?


Cerita tersebut Rasulullah justru menyadarkan kita bahwa status haram
dan najis tak otomatis berbanding lurus dengan anjuran membenci,
melaknat, dan menghinakan. Bukankah Rasulullah pernah berujar,
"Irhamuu man fil ardl yarhamkum man fis samâ'
(sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangimu.")

sumber : nu.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini