Rabu, 25 Februari 2015

Tuhan, Beri Aku Cinta

Sepasang prenjak hinggap di ranting,
berlompatan, menggugurkan daun kering ke bumi,
hari berganti hari,
sepasang prenjak terus bernyanyi,
mengiringi perjalanan sang mentari.


Di lain hari,
seorang lelaki tua duduk tafakur usai sembahyang,
menghitungi tasbih dengan jari jemari,
ya,
lelaki tua,
sang pengelana tua,
lelaki perkasa yang tiba-tiba menjadi renta,
terbayang usia yang sudah di ambang senja,
di bibir kematian.


Pun kematian itu tak kenal usia,
memagut lembut pada jiwa-jiwa yang tertunduk,
atau menyerang garang pada jiwa-jiwa yang jalang,
kematian hanyalah kematian,
pun itu tak dapat didustakan,
berlarilah dari kematian,
selagi engkau masih merasa perkasa....


Tuhan,
di peraduan ini,
di sela-sela nafas harum-MU ini,
entah berapa kali aku telah berjanji,
untuk selalu setia pada janji,
berbakti pada ibu,
pada guru,
pada bumi pertiwi,
tiada dayaku,
hanya ada daya-MU,
tiada cintaku,
yang ada hanya limpahan kasih-MU.

Jangan biarkan malamku berlalu hilang dan kering,
seperti keringnya daun yang luruh ke bumi,
jangan biarkan nyanyian prenjak melebihi keindahan suara-MU,
aku tau Kau selalu membelaiku,
merayu bahkan memanggil.

Tuhanku,
cintaku hanyalah setitik debu,
pantaskah bermimpi tentang sorgaku,
tempat bidadari dan buah-buahan nan ranum,
cintaku hanyalah setitik embun,
tak berbekas di telan hamparan padang pasir.


Tuhanku,
beri aku cinta,
yang menitik di antara derai air mata.


© Copyrights - nahdiana.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini