Rabu, 17 Juni 2009

Kakek Dan Fatimah

Ingatlah ketika Fatimah bertanya kepada kakeknya,
dimanakah kedamaian dilahirkan ?
Patutkan Fatimah mendamba kedamaian
seperti Fatimah bahagia dalam dekapan bundanya ?

Aku dulu seperti Fatimah
mencari pilar-pilar hati yang hampir retak
tempat bersemayam kesejukan dan seberkas cahaya
adakah hidup ini seperti Fatamorgana
menorehkan sejarah tanpa peduli kakek tiada dikenang cucunya ?

Berbagai kisah telah diceritakan
tak jua aku paham apa arti kehidupan
aku tak pandai mencari apalagi menghayati
apa arti bendera dikibarkan
yang bila tercampakkan orang ramai mengobarkan api peperangan
dimanakah itu cinta
ketika sang bapak meninggalkan anaknya
menuju medan laga dan gugur menjadi pahlawan
apakah hidup hanya untuk sebuah kebanggaan ?
aku bertanya seperti Fatimah
dan ketika itu kakek diam saja.

Mungkinkah hati itu sebening kaca
dan ketika hendak mencapainya dia seluas samudra
berbagai warna dibiaskan
hingga orang dapat membaca dia berwarna biru
atau dia sedang dirundung kelabu.

Tidak kakekku
Engkau mesti berkisah kepadaku
seperti Engkau dulu pernah bercerita pada Fatimah
tapi Kau berlalu pergi
sebelum sempat aku menyaksikan wajahmu yang pucat pasi
Engkau telah menghadap Ilahi
sepuluh tahun yang lalu.

Hanya bisik rindumu yang selalu mengingatkanku
agar aku ingat bunga dengan wanginya
ingat laut dengan debur ombaknya
dan ingat pula siang dengan malamnya
ketika itu kau katakan, itulah kehidupan...


Bogor
9 Juli 1997

--
Created By
Muhammad Saroji

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini