Sabtu, 20 Juni 2009

Jakarta- Jakarta

Jakarta,
ketika malam mulai lengang
ketika rembulan tak lagi purnama
sayup-sayup terdengar bunyi kendaraan melintas
mengusik gendang telinga yang merindukan kesunyian
ini malam aku amat lelah
ingin benar mata terpejam
merengkuh bantal guling menjemput impian
tapi suara gaduh tadi siang
masih saja terngiang di telinga
kegaduhan mesin pabrik
klakson mobil bersahutan
kemacetan panjang jalan raya
hingar bingar musik kenangan masa muda
bersatu menjadi satu warna ibu kota,
hidup dan kehidupan.

Jakarta,
di saat menghembus angin dingin yang kering
pertanda gersang musim telah tiba
telah dua purnama kaki ini melangkah
menelusuri detik-detik kehidupan yang tak lagi ramah
tak mungkin bukan ?
aku mundur ke belakang ?
Tak mungkin bukan ?
aku harus menyerah dan kalah ?

Jakarta,
inilah saatnya aku kembali mengeja
makna cinta dan kasih sayang
yang berdiri menantang di antara dendam dan kebencian
ini hidup untuk cinta,
tapi cinta apa ?
orang rela mati karena cinta
merana dan terhina karena cinta.

Jakarta,
jangan jadikan aku seorang pecundang yang durhaka
dalam kesulitannya aku meniti jembatan hidup
kadang tergelincir dan berdarah
di sini tak ada ayah bunda
tempat aku mengeluh dan berbagi rasa
tak ada pula sanak saudara
tempat bercerita dan bertutur sapa.

Jakarta,
inilah keramaian dalam kesunyian
hidup dan berdiri satu-satu
menghayati diri bagai yatim piatu
melangkah tertatih-tatih
menatap masa lalu
pedih dan perih
merangkai bunga di tangan
mawar dan melati
semoga indah akhir sebuah kisah
menunggu takdir cinta penuh misteri.

--
Created By
Muhammad Saroji

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini