Senin, 15 Juni 2009

Hati Yang Berdebu

Ubun-ubunku yang tak pernah sakti
hati, jantung, dan paru-paru
yang tak pernah menjadi besi
hari demi hari
aku pusing tujuh keliling
oh
jari jemari
menggaruk di rambut kepala yang tak pernah gatal
kulit lecet
biar bernanah berdarah
agar aku tahu
sakit di antara tawa
ubun-ubunku
tak pernah berfikir baqa
tak pernah menjadi ratu
pantas aku manja dan mengeluh, selalu
meratapi panas
menyesali hujan
ubun-ubun itu
pusing tujuh keliling
menghitung sisa detik
...* * / @ ..@\ :....?~~...


....@...@..@..!.

Hatiku !
Kau menterkejutkan aku
hatiku
jangan berkata begitu
seakan kau maha tahu.

...@
..m@'@fkan aku hatiku
kau adalah suara jiwaku
yang selama ini aku campakkan
ke comberan
aku baru mengerti
ubun-ubunku tak pernah sakti
karena selama ini aku bermanja
makan dan tidur
di balai mewah !

Maafkan aku hatiku
karena tak pernah kubasuh mukaku berdebu
selama ini tangan berbalut daki
kaki berlumpur duli
tapi kau selalu berkata suci
dan di lisan selalu ku dustai.

Barangkali kau berkehendak
jasad lusuh mengembara di Siberia
biar jasad ini mati membeku
atau berkelana di gurun sahara
biar jasad ini membujur bangkai
tidak ?
Menyantuni orang miskin ?
Mengharap belas kasih ?
Tidak ?
Mengadu pada Tuhan...?
Memohon cinta
dalam ratapan doa ?
....?

Bogor
13 November 1996

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini