Senin, 15 Juni 2009

Angin Tanpa Suara

Embun dingin pada rumput di kotamu
menyentuh pada dinding kalbuku
seakan dia menyapa
...di mana kebebasan
di mana kemerdekaan ! !

Tak ku tahu dimanakah ujung sebuah perdamaian
dimana seorang ibu membagi kasih sayang pada anaknya
selama ini aku terjajah
di tempat dimana aku dilahirkan
dan tak dapat ku jawab dimana ada kemerdekaan
karena ia telah lama dijarah orang
bumiku menangis
hatiku merintih
air lama tak mengalir
pada bengawan yang kering kini.

Di kotamu ini
angin berdesah tanpa suara
tapi debu-debu perih menghempas menerjang
embun tak lagi berguguran di pangkuan bumi
meninggalkan daun-daun
makin kering, pucat pasi
tak jua ku temukan kemerdekaan di sini
karena di sini yang ada hanya kebebasan tanpa makna
kebebasan tanpa suara
tanpa kata-kata
di sini orang-orang berperang
di sana orang-orang saling tikam
menorehkan luka yang dalam
dendam dan kebencian
tak seperti ibundaku dulu
yang melahirkan dan membesarkan
dengan taruhan nyawa satu-satunya
tanpa kesedihan
tanpa keluh kesah.

Embun dingin pada rumput di kotamu ini
tak sedikitpun meninggalkan kedamaian bagimu
tak jua menyentuh pada dinding kalbuku, kini
hanya ada desah angin tanpa suara
pada jiwa-jiwa manusia yang dirundung kegalauan
tentang hari depan anak cucu
di hari kemudian.

Bogor
13 Juni 1997

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini