Minggu, 17 Mei 2009

Cermin

Aku berkaca di depan cermin
agar dapat ku nikmati wajahku yang ayu rupawan
barangkali di wajahku ini tersembunyi keagungan
agar dapat aku berbangga pada setiap orang
dan cermin itu mengatakan dengan sungguh
aku seperti yang ku sangkakan
barangkali kemuliaan !

Sepuluh tahun telah berlalu
cermin itu telah kusam dan retak-retak
aku berkaca lagi di depan cermin itu
ku hayati dalam-dalam
aku terkejut bukan kepalang
wajahku terpetak-petak !
Seperti rasa hatiku yang terkotak-kotak
aku makin ngeri dan ketakutan
di dalam cermin itu
bibir tuaku tersenyum
dengan senyuman yang tak lagi menawan.

Ku sangka diri ini bahagia
dengan keagungan dan kemuliaan yang dibangga-banggakan
ku kira diri ini penuh keindahan dan keabadian
ternyata jasad rapuh ditelan usia.

Aku gelap mata
cermin itu aku banting
hancur berantakan
hilang bayang wajahku
musnah senyum nestapaku.

Cermin
saksi kejujuran
tunjuki aku gambar sebenarnya
mestinya
bukan hanya kepadamu aku mengaca
tiap orang lain adalah cermin
alam semesta adalah cermin
kegagalan dan keberhasilan adalah cermin
mengajari kita bijaksana.

Cermin
telah hancur berantakan
serpihmu membiaskan sinar
hati kecilku mendapat cahaya penerang
meski hancur, kau tetap cermin
yang teguh dalam kejujuran.


Jakarta
29 Oktober 1995

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini