Senin, 16 Februari 2009

6 Sifat Penghuni Neraka

6 Karakter Penghuni Neraka

(oleh : ahmad sopiani)

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.

Innalhamada lillaah. Shalli wa sallim 'alaa rosuulillaah. Wa ba'd.

Semoga kita selalu sehat dan bahagia dan Tetap Semangat !! dalam
lindungan Allah SWT.

Manusia memiliki karakter-karakter yang, meskipun tempatnya di benak
masing-masing namun, akan membawa banyak sekali pengaruh dalam pola
laku dalam kehidupannya di alam nyata. Seperti para motivator selalu
katakan; akal/pikiran, dimana karakter manusia dibentuk, akan
menentukan sukses, bahagia, sejahtera, bahkan masuk surga atau neraka
seseorang. Manusia yang hidup dengan penuh syukur, positif
thinking/husnudzdzann, yakin, istiqomah, sabar, tawakkal akan
mempunyai kehidupan yang jauh lebih berkualitas dibandingkan manusia
yang selalu mengeluh, mengingkari kebenaran, negative
thinking/su'udzann, penuh keraguan, inkonsisten, dan tidak berlaku
sabar. Bermula dari watak dan karakter inilah akan lahir
perbuatan-perbuatan yang pada ghalibnya akan menentukan layak atau
tidaknya seseorang untuk mendapat surga Allah atau justeru terjerembab
ke dalam Jahannam yang bergejolak.

Tentu kita berharap dan berusaha agar kita tidak memiliki karakter dan
watak yang akan membawa kita terjerumus dalam neraka. Namun berharap
saja tidaklah cukup. Kita harus berusaha mengenali karakter-karakter
manusia ahli neraka itu dan sekuat ghirah dan azzam untuk
menghindarinya.

Al-Quran Surat Qaaf ayat 24 s/d 26 memuat beberapa karakter penghuni
neraka yang mungkin saja pernah hinggap dalam diri kita;

1.. Kaffaar
Sangat ingkar. Bahkan Abu Jahal tahu persis bahwa yang dibawa oleh
keponakannya itu adalah kebenaran. Abu Lahab tahu persis bahwa
keponakannya itu adalah Al-Amin. Bahkan Umayyah dan para begundalnya
mengenalnya seperti mengenal anak kandungnya sendiri. Tetapi mereka
tetap dalam kemusyrikan dan kekafiran, tidak mau menerima kebenaran
yang dibawa Muhammad SAW. Kebenaran dipaparkan secara gamblang dengan
segala macam bukti kepada mereka, tetapi mereka berlaku kaffaar hanya
karena takut hegemoninya atas masyarakat hilang.

2.. 'Aniid
Keras Kepala. Pembangkang. Tidak mau menerima nasihat meski tahu
persis nasihat itu baik dan benar. Orang yang kaffaar secara otomatis
akan menjadi 'aniid sebagai konsekuaensi lanjutannya.

3.. Mannaa' lilkhoir
Sangat menghalangi kebaikan. Sangat tidak rela bila orang lain
melakukan/mendapat kebaikan lalu berusaha keras menghalanginya.
Sebaliknya, ia akan sangat gemar menganjurkan kejahatan dan ma'shiat.
Ramai-ramai unjuk rasa meminta Gerakan Syahwat Merdeka dibiarkan
merajalela dengan menolak aturan yang akan memberangusnya.

4.. Mu'tad
Melanggar batas. Hidup telah diatur oleh Sang Pencipta dengan
ketentuan-ketentuan, batasan-batasan, hukum-hukum dan keserasian yang
seluruhnya diperuntukkan buat kehidupan yang baik bagi manusia. Namun
ternyata, sebagian manusia menganggap batasan-batasan itu mempersempit
ruang kebebasannya. Mempersempit ruang berekspresinya. Mengancam
kesenangan pribadinya. Lalu tampillah ia dengan segala kepongahannya
berusaha above the rule. Menerabas segala hukum dan etika untuk
mendapatkan kepuasan pribadi. Menjadi pendukung utama Gerakan Syahwat
Merdeka.

5.. Muriib
Peragu. Selalu ragu-ragu alias tidak yakin terhadap kebenaran yang
disampaikan Allah dan RasulNya. Mempertanyakan segala hal yang ada
dalam Al-Quran dan Sunnah yang jelas kebenarannya dengan penuh
keraguan. Bahkan menularkan keraguan itu kepada orang lain sehingga
orang-orang disekitarnya menjadi kacau keyakinannya. Mengekspose
keraguannya itu secara besar-besaran di media massa dan dengan bangga
menyebut dirinya pembaharu dan intelektual muslim. Dengan dada busung
mengatakan kita perlu re-interpretasi atas ayat lalu melahirkan tafsir
kontemporer yang ujung-ujungnya adalah kekacauan dan kesesatan.

6.. Ja'ala Ma'allahi ilaahan aakhor
Menyembah sesembahan lain beserta Allah. Percaya pada Allah tetapi
tetap mendatangi dukun-dukun untuk dimintai bantuannya. Percaya Allah
penguasa alam semesta tetapi yakin bahwa dollar juga adalah yang maha
kuasa. Shalat dilakukan tetapi minta "penguasa laut selatan" tidak
marah dengan menaburkan sesaji. Jadi kemusyrikan itu bukan tidak
percaya dan tidak menyembah Allah, tetapi percaya, yakin dan melakukan
perbuatan yang membuat Allah tidak Maha Kuasa sendirian. Membuat Allah
seolah memerlukan kekuatan lain untuk mengatur ritme kehidupan.
Membuat Allah memerlukan sekutu untuk mengurus alam semesta.

" Allah berfirman :" Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua
orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi
kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, yang menyembah sembahan
yang lain beserta Allah maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang
sangat ." Q.S. Qaaf : 24-26.

Dapatkah kita terhindar dari 6 karakter penghuni neraka itu ? Tentu
saja bisa! Hanya saja perlu usaha, upaya dan latihan terus menerus
untuk dapat mewujudkannya. Yakinlah, dengan tetap semangat !! kita
pasti bisa.

Wallahulmuwaffiq.

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Bekasi, 6 Desember 2008.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Seluruh atau sebagian artikel yang terbit di Situs kami tidak otomatis mempresentasikan suara umat islam secara keseluruhan. Setiap tanggapan, sanggahan atau komentar Anda dapat disampaikan ke kolom komentar di bawah ini